Menurut penelitian, Stres ternyata bikin kamu sehat

Kehidupan tidak selamanya terus berujung bahagia, terkadang mau tidak mau kita harus menghadapi berbagai konflik dan permasalahan yang seakan menyesakan dada.

Disadari atau tidak, rutinitas sehari-hari yang kita jalani terkadang mengandung unsur kesedihan. Misalnya saja, permasalahan percintaan yang awalnya bahagia kemudian akhirnya harus renggang karena masalah tertentu. Bukannya ini menyesakan dada? Bukan hanya itu saja, masalah di kantor, sekolah, rumah, masalah dengan teman, rekan kerja, dan bisnis juga mengandung unsur ketidak bahagiaan.

Maksudnya? konflik dan permasalahan bisa saja terjadi dari mulai pertemanan, bisnis yang gagal, rekan kerja yang menyebalkan, masalah dengan keluarga, dan masalah lainnya. Masing-masing dari point-point diatas memiliki peluang tersendiri bagi kita untuk merasa sedih setidaknya 1 atau 2 point diantaranya. Biasanya, orang-orang yang mengalami siklus sedih atau dalam istilah kerennya galau akan merasa tertekan hingga akhirnya mengalami stress.

Sudah tau bukan bagaimana rasanya stres? atau bagaimana rasanya berada pada titik dimana kamu merasa sendirian di muka bumi ini? Yap, itulah stress. Kamu merasa terus dihantui rasa bersalah, takut atau marah yang berkepanjangan dan itu diri sendiri yang merasakan. Begitupun cara mengatasinya, hanya diri sendiri yang mampu mengatasinya dengan benar.

Meskipun peran orang-orang terdekat sangat penting, peran diri sendiri sebenarnya jauh lebih penting. Buktinya banyak orang-orang yang tidak tertolong dari siklus stressnya hingga menimbulkan penyakit kejiwaan yang permanen. Meski tidak semua orang yang mengalami stres akan gila, namun akhir-akhir ini stres sering disebut-sebut sebagai penyebab utama timbulnya berbagai penyakit berbahaya.

Benarkah stres bisa menyebabkan penyakit berbahaya?

Beberapa penyakit berbahaya sering dikaitkan dengan stres sebagai pemicu kambuhnya penyakit tersebut, misalnya saja seperti jantung, kanker, insomnia, sakit kepala, dan obesitas. Mengapa stress bisa dikaitkan dengan penyakit tersebut? Karena stres berpusat di otak, sedangkan otak merupakan pengendali semua kinerja organ.

Dengan jelas, organ lain akan mengalami penurunan fungsi atau bahkan kegagalan fungsi yang normal. Stres juga dapat mengubah mood seseorang menjadi buruk sehingga rutinitasnya menjadi tidak terkontrol. Misalnya jadi jarang makan karena napsu makan yang hilang, alkohol, rokok, dan beberapa kegiatan lain yang bisa mengancam kesehatan. Namun penelitian yang lain justru sebaliknya, yakni menyatakan bahwa stres itu menyehatkan, benarkah?

Benarkah stres justru menyehatkan?

Penelitian baru menyebutkan bahwa stres justru menyehatkan. Para ilmuwan di UC Berkeley mencoba melakukan penelitian terhadap siklus stres yang rentan terjadi, mereka melihat pertumbuhan sel-sel induk dalam hippocampus atau bagian dari otak yang terlihat dalam respon stres, pembelajaran dan memori. Objek yang dijadikan sumber penelitian adalah tikus.

Ketika tikus mengalami siklus stres yang sebentar mereka mengalami pertumbuhan sel induk yang justru baik bagi otak, sebaliknya ketika stres yang dialami terjadi dalam jangka waktu yang lama sel-sel induk mereka tidak tumbuh sehingga membuat sel-sel otak lebih sedikit.

Inti dari penelitian tersebut menyimpulkan bahwa kondisi stres ringan dan singkat dapat mendorong pertumbuhan sel induk yang menjadi sel-sel baru di otak, sehingga meningkatkan memori dan kemampuan belajar. Sedangkan stres yang akut dan berkepanjangan justru membuat perkembangan otak terhambat. Tidak ada bedanya dengan tikus, manusia pun akan mengalami hal yang sama.

Pada manusia, stres ringan yang dimaksud misalnya ketika mengerjakan soal ujian yang susah, ketika mengumpulkan hasil karya, uang hilang dan beberapa permasalahan ringan lainnya. Insiden kecil ini biasanya tidak memakan waktu yang lama bagi kamu untuk menyembuhkannya, jadi lebih seperti melatih otak saja sehingga otak berfikir keras dalam beberapa saat dan ini ternyata bermanfaat.

Terlepas apapun insiden yang terjadi (entah ringan ataupun berat) kembali lagi kepada diri pribadi. Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk mengobatinya, karakter setiap orang berbeda-beda, lambat dan cepatnya perkembangan penyakit tergantung pada diri sendiri juga.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *