Mengobati masuk angin dengan kerokan, berbahaya atau tidak?

Setelah seharian pontang-panting sana-sani menggunakan motor tanpa berjaket, saat pulang kerumah kerokan menjadi tradisi yang selalu diandalkan. Yah, kerokan memang sudah menjadi kebiasaan orang-orang yang merasa cocok setelahnya. Dan terbukti, banyak sekali penikmat kerokan yang tidak bisa berhenti dari kebiasaan ini.

Namun, tidak semua orang menyukai kerokan ya, terlebih kan sekarang sudah modern, ketika masuk angin kita tinggal beli minuman penghangat.Tetap saja, para pecandu kerokan tidak bisan keluar dari kebiasaan ini dan terus melakukannya ketika memang perlu. Namun, banyak sekali pendapat bermunculan yang menyatakan jika kerokan itu berbahaya. Benarkah? Lalu mengapa banyak orang yang merasa cocok dan baikan setelahnya? Apakah kebiasaan kerokan harus dihentikan?

Mengapa kerokan sangat digemari?

Kita sudah akrab sekali dong ya dengan istilah kerokan, meskipun tidak merasakannya langsung, setidaknya kamu pernah melihat ibu bapa atau engkongmu di kerok dengan menggunakan koin dibentuk seperti tulang ikan atau artefak megatrophus. Kita mungkin sempat berfikir. Apa sih manfaat kerokan? mengapa orang merasa baikan setelahnya?

Kepercayaan orang mengatakan, jika kerokan bisa mengeluarkan angin-angin yang masuk. Iya, setelah dibuat garis-garis cantik itu, dari sanalah angin keluar. Pasalnya, karena itulah tubuh terasa ringan dan nyaman setelahnya. Benarkah? Pernyataan ini harus sedikit diluruskan ya. Menurut ilmu medis, perubahan kulit setelah dikerok telah mengalami reaksi inflamasi. Proses ini menyebabkan pembuluh darah terbuka dan melebar.

Pelebaran pembuluh darah ini menyebabkan aliran darah menjadi lancar sehingga oksigen dan nutrisi akan meningkat. Tidak berhenti sampai disini saja, oksigen dan nutrisi yang telah lancar akan disalurkan pada otot-otot yang mengalami pegal sehingga sakit di tubuh akan menghilang secara perlahan. Setelah kerokan jangan langsung mandi karena pori-porinya masih terbuka. Lebih baik jangan mandi saja hingga badan normal kembali.

Selain memberi efek positif, ternyata kerokan juga bisa jadi berbahaya lho

Setelah membaca pernyataan diatas mungkin saja sekarang kamu lagi jingkrang-jingkrang kesenangan. Bangga dong, jadi merasa hebat dan mikir ternyata kerokan memang diakui di dalam ilmu medis. Benar kan? Memang iya, tapi jangan kesenangan dulu. Fakta lain menyebutkan bahwa kerokan justru berbahaya dan menyebabkan gangguan kesehatan yang serius. Mana yang benar? Menyehatkan atau tidak? Kita boleh mempraktekannya atau tidak? Mari klarifikasi.

Setelah kerokan tubuh menjadi baikan, kondisi inilah yang membuat orang ketagihan melakukannya, setiap terkena gejala masuk angin langsung kerokan. Bagaimana jika masuk anginnya setiap hari? Apakah setiap hari juga kamu melakukan kerokan? Meski diakui dalam ilmu medis, terlalu sering kerokan juga bisa menimbulkan gangguan kesehatan yang cukup berbahaya.

Seperti yang saya jelaskan diatas, setelah kerokan pori-pori akan terbuka lebar. Ketika pori-pori terbuka, ini menjadi peluang bagi virus dan bakteri untuk masuk. Pori-pori yang terbuka semakin melancarkan masuknya virus dan bakteri, belum lagi peredaran darah sedang melaju cepat, si virus dan bakteri bisa dengan nyaman jalan-jalan di tubuh. Untuk meminimalisirnya, setelah kerokan ganti dengan pakaian baru, lalu gunakan jaket dan selimut, jauhkan diri dari orang-orang yang sedang sakit.

Selain itu, tanpa kita sadari, bagian2 yang menjadi lahan kerokan memiliki jaringan saraf yang sangat banyak dan rumit. Apalagi di bagian leher. Ketika pembuluh darah melebar, kerokan yang dilakukan secara periodik dan terus menerus membuat pembuluh darah yang tadinya berukuran kecil akan melebar. Kondisi bahaya nya, adalah ketika pembuluh darah pecah, hal ini akan mengakibatkan seseorang mengalami stroke dadakan.

Kerokan berbahaya atau tidak?

Kerokan bisa jadi berbahaya tau tidak tergantung bagaimana kita mempraktekannya. Dikerokin sama yang tidak profesional memiliki resiko bahaya yang tadi saya sebutkan, dengan pola yang tidak beraturan, ini menciptakan efek kerokan yang berbahaya, seperti stroke tadi. Faktor penyebab yang kedua adalah, terlalu sering. Karna dirasa aman dan nyaman, kerokan dibikin jadwal setiap hari, atau bahkan 3 kali sehari. Terlalu sering kerokan juga tidak dianjurkan. Bukan malah sehat, badanmu malah menjadi sarangnya penyakit. Kerokan boleh saja, asal dengan pola yang benar dan frekuensi kerokannya jangan terlalu sering maksimal 1 minggu 2 kali saja itu juga ketika terkena gejala.

1 Comment

  1. Monkey

    That’s a brilliant answer to an intreesting question

    Reply

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *