Mengapa HIV AIDS lebih rentan menyerang ibu rumah tangga?

Sudah sering sekali bukan mendengar penyakit HIV AIDS? HIV atau kepanjangannya dari Human Immunodeficiency Virus yakni jenis virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh dan melemahkan kemampuan tubuh untuk melawan infeksi dan penyakit. Orang yang terinfeksi virus ini akan kesulitan untuk menghindari tubuh dari ancaman penyakit yang masuk sehingga tubuh sangat rentan sekali terkena penyakit. Sedangkan AIDS merupakan lanjutan dari gejala yang ditimbulkan dari virus tersebut. Pada tahap AIDSĀ  seseorang akan kesulitan untuk mempertahankan hidupnya, atau yang secara istilahnya mereka berada di ujung kematian. Dan yang paling memprihatinkan adalah HIV AIDS belum ada obatnya hingga saat ini, yang ada hanyalah obat untuk memperlambat perkembangan penyakit (menahan virus agar tidak sampai pada tahap AIDS).

Ketika mendengar penyakit ”HIV AIDS” apa yang anda pikirkan? Pecandu narkoba, hubungan seks bebas, jarum suntik. Setidaknya 3 komponen ini telah mewakili nama lain dari HIV AIDS. Pengidap HIV AIDS selalu di kaitkan dengan hal-hal yang berbau negatif, padahal penyebab terinfeksinya HIV tidak hanya berbatas pada kegiatan negatif seperti itu saja. Bisa saja hal ini disebabkan oleh penularan yang tidak sengaja, misalnya darah penderita yang masuk lewat luka yang terbuka. Meski demikian, pemikiran masyarakat tentang HIV AIDS selalu berujung pada prasangka bahwa mereka terinfeksi karena hal yang negatif. Penderita HIV memang domninan datang dari para remaja dengan kasus ”kenakalan remaja”. Namun penelitian jumlah pengidap HIV akhir-akhir ini tengah mengejuktkan kita. Pengidap HIV dengan angka tertinggi datang dari para ibu rumah tangga.

Mengapa HIV dominan menyerang IRT?

Munculnya kasus HIV sempat menjadi topik yang hangat di perbincangkan khususnya di negara kita Indonesia. Pada awal kemunculannya, orang-orang yang masih awam mungkin sempat bertanya-tanya darimana berasalnya penyakit ini? kenapa penyakit ini begitu mematikan? kenapa penyakit ini sulit di sembuhkan? dan beberapa pertanyaan lainnya. Hingga seiring berjalannya waktu pertanyaan itu mulai terjawab, penyakit ini pun terkenal dan memiliki pengidap yang semakin melampaui batas. Yang paling menjadi perhatian adalah angka penderita yang paling tinggi lebih rentan menyerang ibu-ibu rumah tangga. Dalam data yang baru-baru ini terkumpul menunjukan jumlah penderita dari segi profesi seperti tenaga non professional/karyawan (9.603 kasus), wiraswasta (9.439 kasus), petani/peternak/nelayan (3.674 kasus), buruh kasar (3.191 kasus), penjaja seks (2.578 kasus), PNS (1.819 kasus), dan anak sekolah/ mahasiswa (1.764 kasus).

Secara kasat mata darimana mereka mendapat penyakit ini? Bukankah tugas IRT itu dirumah saja? selain mengurus anak dan rumah apa yang bisa IRT lakukan? Apakah ada sedikitnya kegiatan yang berbau negatif? misalnya, narkoba, hubungan seks apakah ada? Selama ini, ibu rumah tangga dianggap paling tidak berisiko dibanding penjaja seks. Ibu rumah tangga dinilai lebih banyak menghabiskan waktu di dapur dan mengurus anak. Lalu mengapa data menyimpulkan bahwa IRT memiliki jumlah penderita yang sangat banyak? apa mungkin data tersebut salah? apa mungkin sebanyak itu IRT yang melakukan kegiatan nakal? Ini mungkin hampir tidak masuk akal, bagaimana bisa IRT memiliki pengidap HIV yang lebih tinggi dibanding PSK? Mari cari tahu alasannya. Ketua Komite Pogram Yayasan AIDS Indonesia, dr. Sarsanto W. Sarwono, SpOG mengungkapkan”Ibu rumah tangga biasanya mendapatkan HIV dari suaminya”. Ya, maraknya kasus HIV juga karena maraknya kasus perselingkuhan yang terjadi di dalam rumah tangga.

Kenapa jumlah penderita dari kalangan PSK lebih sedikit dari jumlah IRT? karena PSK bisa melakukan penularan pada banyak orang. Misal : satu orang PSK (yang terinfeksi) melakukan hubungan dengan si A, B, C, D, E, F,G, H, I. Dalam sehari seorang PSK bisa memberi penularan pada 9 pria sekaligus bahkan lebih. Sedangkan jumlah mereka masih segitu-gitu saja. Lalu mengapa IRT pun ikut tertular? ketika para suami pulang dan melakukan hubungan intim dengan istrinya maka otomatis istri terinfeksi. Yang lebih memprihatinkan kembali, ketika IRT hamil, anak yang dikandungnya juga otomatis terinfeksi virus bawaan dari orangtuanga. Itulah sedikitnya orang-orang tidak berdosa yang terinfeksi virus HIV tanpa kesalahan yang mereka buat, itu juga yang menjadi alasan mengapa angka penderita HIV semakin banyak, tidak lain karena angkat kelahiran dari penderita HIV yang tinggi.

 

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *