Menurut ahli gizi, ini alasan kenapa daging babi tidak layak konsumsi!

Meski kita dihalalkan untuk mengkonsumsi daging hewan, namun bukan berarti kita bisa mengkonsumsi jenis hewan apapun sesuka hati. Pengkonsumsian daging hewan harus sesuai batasan pula, jika sekiranya hewan yang akan di konsumsi akan mendatangkan efek buruk terhadap tubuh maka kita wajib menghindarinya. Salah satu hewan yang wajib kita hindari adalah babi. Sudah tau seperti apa hewan babi itu? di Indonesia, babi memang sulit di temukan, namun di berbagai negara asing, hewan ini menjadi primadona tersendiri bagi mereka penikmatnya.

Lalu mengapa indonesia tidak melegalkan babi? mengapa babi termasuk hewan yang tidak sehat dan wajib dihindari? Seperti yang telah kita ketahui bahwa indonesia termasuk negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia, dan kita pun tahu bahwa babi adalah salah satu hewan berlabel ”najis” yang wajib umat muslim hindari. Karena itulah pasokan daging babi di indonesia sangat minim dan sulit ditemukan.

Bukan tanpa alasan, daging babi dilarang konsumsi karena banyak sekali faktor negatifnya. Sehingga jangan sampai ada pemikiran bahwa hal ini semata-mata untukĀ  ”mengikuti peraturan agama saja”. Karena faktanya, dari segi kesehatan pun babi tidak memenuhi kriteria yang baik bagi tubuh.Justru menimbulkan berbagai penyakit berbahaya yang mengancam nyawa.

Adapun mengapa di negara lain daging babi di perjual belikan dengan mudah? selain karena mayoritas penduduk disana bukan muslim, rasa daging babi menurut penikmatnya terkesan lezat dan tidak tertandingi. Itulah mengapa pengkonsumsian daging babi tidak bisa dihentikan, malah muncul unsur kecanduan yang berlebih.

Setiap hewan sudah pasti memiliki ruang lingkup masing-masing yang tidak bisa disamakan. Dari mulai tempat tinggal, cara berkembangbiak, cara mempertahankan diri, dan yang paling penting yakni dalam hal asupan makanan. Contoh kasus : kucing menyukai ikan, ketika kucing diberi rumput apakah dia akan memakannya? Tidak. Apakah sapi juga akan memakan duri ikan seperti kucing? Tidak pula.

Meski tidak memiliki pola fikir yang baik seperti manusia, hewan pun bisa sangat selektif terhadap jenis-jenis makanan tertentu. Dibanding hewan pada umumnya, babi memang memiliki siklus hidup yang berbeda. Babi bisa mengkonsumsi apa saja, tinggal dimana saja dengan penyesuaian dirinya sendiri. Apakah ini baik? bagi pemilikinya mungkin ini terkesan menguntungkan, tetapi bagi para konsumen hal ini sangat merugikan.

Babi bisa mengkonsumsi apapun yang ada, termasuk sampah, kotoran, kotoran manusia hingga kotorannya sendiri. Babi juga bisa menyesuaikan diri dimana saja, bahkan di tempat yang kumuh sekalipun. Siklus hidup yang buruk inilah yang membuat babi di dokrin sebagai hewan yang tidak memenuhi syarat untuk di konsumsi.

Pola makan yang jorok yang dilakukan babi bisa mendatangkan berbagai virus, bakteri, kuman dan sumber penyakit dalam tubuhnya. Jika dagingnya kita konsumsi maka zat berbahaya yang di kandungnya pun akan berpindah ke dalam tubuh kita. Itulah mengapa kita harus benar-benar menghindarinya, tidak lain karena daging babi zat parasit yang beresiko buruk bagi kesehatan, bahkan penelitian menyebutkan bahwa di dalam daging babi terdapat cacing pita yang tidak terhitung jumlahnya.

Apa bahaya dari cacing pita?

Jika cacing pita ini masuk ke dalam tubuh, entah lewat makanan atau pun minuman, nantinya akan menetas menjadi larva, selanjutnya larva akan masuk ke usus dan peredaran darah seperti otot, mata hingga otak. Begitupula cacing pita yang berada di dalam daging yang sangat melimpah, jika dikonsumsi dapat menyebabkan menyebabkan terjadinya infeksi di dalam tubuh.

Infeksi cacing pita babi bisa juga disebut dengan sebutan neurosistiserkosis, yang memiliki gejala berupa sakit kepala kronis, kebutaan, dan epilepsi. Selanjutnya, jika cacing pita sudah menyerang otak maka gejala akan semakin parah lagi yakni demensia, menigitis, hidrosefagus, dan adanya luka-luka yang terdapat pada celah-celah sistem saraf pusat. Meskipun selalu ada bantahan bahwa ”daging babi kaya akan protein” namun, jika kandungan buruk dalam tubuhnya lebih banyak dari jumlah protein yang ada, maka zat baik di dalam tubuh babi akan tertimbun pula dan terkesan tidak berguna.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *