Gizi dalam daging babi lebih baik dari sapi, benarkah?

Berbeda dari hewan lainnya, babi memang menjadi hewan yang paling banyak di sorot dan di perbincangkan. Mengapa demikian? selain karena penyukanya yang berbatas, hewan ini disebut-sebut sebagai sumber penyakit. Bagi umat muslim sendiri, daging babi merupakan suatu yang diharamkan dan wajib dihindari, namun peraturan ini tidak menjadi kendala bagi mereka yang berada di lingkaran non muslim. Malah di beberapa negara pengkonsumsian daging babi termasuk suatu yang lumrah.

Coba bayangkan jika hal ini terjadi di negara kita, apa yang akan terjadi? hal ini tentu akan menjadi perdebatan yang luar biasa. Mengapa demikian? karena indonesia merupakan negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia. Jika penjualan daging babi di legalkan, maka citra indonesia sebagai negara muslim terbesar akan tercemar.Berbeda dengan negara lain, pasokan daging babi yang melimpah bukan lagi perkara yang aneh disana, bahkan daging babi menjadi primadona sebagai salah satu santapan yang paling digemari.

Pasalnya, daging babi memiliki tekstur daging yang empuk dan rasanya juga gurih, karena itulah daging ini banyak digunakan sebagai bahan utama berbagai olahan makanan. Keyakinan mengkonsumsi babi bukan berbatas pada perbedaan agama saja, beberapa penelitian menyebutkan bahwa daging babi memiliki zat gizi yang baik bagi tubuh bahkan kecantikan. Benarkah? Hasil penelitian menyebutkan bahwa dalam 100gr daging babi terkandung energi yang tinggi yakni 457 kkal, 11.9 gr protein, 7mg kalsium, 117 mg fosfor.

Jika daging babi bergizi mengapa daging babi dilarang konsumsi?

Mungkin kita sempat bertanya-tanya, mengapa daging babi dilarang konsumsi? bukan diperuntukan bagi umat muslim saja, kabarnya daging babi sangat tidak higienis karena mengandung parasit yang berbahaya bagi tubuh, apakah ini benar atau hanya hoaks? lalu mengapa penelitian yang lain menyatakan bahwa daging babi itu bergizi? kita kembali merenung, mana yang benar diantara keduanya? Mari cari tahu kebenarannya.

Babi termasuk ke dalam jenis hewan omnivora (pemakan semua jenis makanan) bahkan babi bisa mengkonsumsi sampah, sisa pembuangan, kotoran manusia hingga kotorannya sendiri. Dengan pernyataan ini apakah mungkin babi di kategorikan sebagai makanan yang bergizi? Tidak. Sampah, pembuangan limbah dan kotoran merupakan sarangnya parasit seperti bakteri, berbagai jenis cacing dan virus yang berbahaya. Jika jenis parasit ini termakan oleh tubuh maka resikonya sangat fatal sekali. Lalu mengapa penelitian di atas menunjukan bahwa kandungan daging babi itu sangat bergizi?

Penelitian diatas menyimpulkan bahwa dalam 100gr daging babi terkandung 457 kkal, 11.9 gr protein, 7mg kalsium, 117 mg fosfor. Kandungan ini cukup tinggi, bahkan hampir sama dengan kandungan sapi. Lalu bagaimana dengan penelitian bahwa kandungan daging babi itu tidak sehat? dari kedua penelitian ini mana yang benar? Jawabannya adalah ”tidak ada yang salah dari keduanya, penelitian keduanya benar dan sesuai dengan hasil yang ada”.

Hasil dari kedua penelitian itu berbeda karena objek yang diteliti pun berbeda pula. Maksudnya? sapi yang digunakan sebagai objek penelitian merupakan 2 jenis sapi yang berbeda sehingga tentu saja hasilnya berbeda. Hasil penelitian yang menyebutkan bahwa daging bagi tidak sehat menggunakan babi lokal sebagai objek penelitiannya, yakni jenis babi liar atau celeng. Jenis babi ini berasal dari peternakan liar, babi yang hidup di alam bebas, atau babi rumahan yang tidak ter-urus.

Sedangkan penelitian yang menyimpulkan bahwa daging babi bergizi menggunakan babi yang sehat dan bersih sebagai objek penelitian. Biasanya babi tersebut mendapat pelayanan hidup yang sangat baik dari mulai kandang yang selalu bersih, makanannya yang terjaga, pembersihan badannya, juga pelatihan diri untuk tidak melakukan hal-hal jorok sehingga babi tersebut hidup tanpa terkontaminasi zat tertentu.

Apakah kelompok babi tertentu bernilai gizi yang sama dengan sapi?

Berapa banyak kiranya jenis babi yang mendapat perawatan yang bersih dari semua jumlah babi yang ada? Sedikit. bahkan sangat minim sekali. Jarang sekali peternak yang rela meluangkan banyak waktunya demi mengurus babi se detail itu. Tetap saja peternak melakukan ternak dengan cara pada umumnya.

Memberi makan dan tempat tinggal seadanya. Logika saja, jika para peternak melakukan perawatan se detail itu maka berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga babi benar-benar siap di jual? berapa pula harga pemeliharaannya? berapa total harga jualnya? tentunya ini akan sangat merugikan.Pernyataan bahwa daging babi itu bergizi sedikitnya memang telah diakui, namun untuk disamakan dengan setidaknya hewan sapi tentu tidak.

Penelitian mengambil sampel dari jenis babi yang berkualitas (perawatannya baik) bukan jenis babi pada umumnya, sedangkan sapi yang uji merupakan sapi dengan perawatan pada umumnya (bukan sapi spesial) tentu hal ini akan berimbang. Sekarang coba jika penelitian dilakukan pada jenis sapi dan babi dengan taraf dan pemeliharaan yang sama. Hasilnya akan jauh berbeda.

Karena kenapa? daur hidup keduanya berbeda, salah satu perbedaannya terletak pada asupan makannya. Sapi sangat selektif memilih makanan, sapi hanya mengkonsumsi rumput saja, sedangkan babi bisa mengkonsumsi apapun bahkan mengkonsumsi kotoran sekalipun. Kandungan gizi di dalam tubuh keduanya jelas berbeda.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *