Anak 6 tahun masih ngompol di celana? ini masalahnya!

Setelah bayi dilahirkan ibu memiliki tugas yang lebih berat lagi untuk menjaga anaknya, dan ini tidak berbatas waktu hingga 9 bulan saja tetapi selamanya. Ibu akan merasakan beberapa penyiksaan dalam hidupnya, apalagi jika ini adalah pengalaman pertama, serangkaian penyiksaan ini dimulai dari bangun tengah malam untuk menyusui, mengganti popok sang bayi, memberi makan sang bayi, menggendong bayi saat menangis, penderitaan ini tidak akan bertahan lama, setelah anak mulai beranjak besar maka kesempatan ibu untuk beristirahat lebih besar lagi. Namun, banyak yang mengeluh bahwa siklus bayi pada anaknya terus saja melekat hingga anak besar. Salah satu siklus bayi yang sulit hilang yakni mengompol di celana.

Ketika masih berumur 1-3 tahun kebiasaan mengompol di celana dianggap wajar saja karena bayi pada usia itu belum bisa berbicara dengan jelas, sehingga ketika ada rangsangan untuk buang ari kecil bayi tidak bisa mengisyaratkan apapun, jadi yang bisa dia lakukan hanya bisa menangis sebagai tanda bahwa dirinya merasa tidak nyaman. Ini tidak akan bertahan lama, seiring berjalannya waktu, bayi akan tumbuh besar dan melakukan revolusi dari menyamping, tengkurap, duduk, mulai belajar berjalan hingga dia bisa lari ke jalan raya. Bukan hanya itu saja, anak akan mengalami beberapa perubahan dari mulai postur tubuh, adanya gigi, rambut, dia juga bisa mulai berbicara, setidaknya bisa bilang ”mama jelek”. Nah dari sana pula anda harus berbahagia, kebiasaan ketika dia bayi yang membuat anda jengkel seperti BAK dan BAB sembarangan bisa teratasi jika anak sudah berada pada tahap ini.

Berapa lama siklus ngompol sembarangan pada anak?

Normalnya siklus ngompol di celana pada anak berhenti pada usia 4 hingga 5 tahun. Itu sudah diambil lamanya, ada juga yang berusia 2 tahun tapi sudah pinter bilang ke orangtua (bilang kalo dia sudah pipis di celana). Ini tentunya akan sangat menyenangkan orangtua, selain terhindar dari lantai yang becek yang bau pesing, sembuhnya ngompol di celana merupakan tanda bahwa anak tersebut sudah mulai cerdas. Herannya, masih saja ada anak yang terus melanjutkan siklus ini hingga terbawa terus-menerus dan menjadi kebiasaan. Tidak sedikit loh anak-anak yang sudah gede tapi masih saja pipis di celana.

Ini memang bukan perkara yang serius atau gangguan penyakit yang aneh, tapi kebiasaan pipis di celana yang berlanjut membuat kehidupan sosialnya menjadi buruk, apalagi jika anak sudah masuk dunia pendidikan minimnya aja masuk ke TK, ketika teman-temannya tau anak anda masih sering ngompol di celana ini akan menjadi titik lemahnya sebagai bahan bulian. Sebenarnya usia masih terbilang wajar, diluar sana bahkan banyak anak sd yang masih mengalami hal ini. Di dalam dunia kedokteran, hal ini disebut dengan istilah enuresis. Yakni tidak dapat menahan keluarnya air kencing. Jika anak yang berusia lebih dari 6 tahun masih saja mengalami gangguan ini segera beri penanganan yang lebih serius,

Apa sih yang menyebabkan anak ngompol di celana padahal sudah besar?

  • Gangguan hormon ADH. Hormon ini berfungsi untuk memberitahu ginjal agar mengurangi jumlah urin yang di produksi. Karena terganggunya produksi hormon ADH yang tepat ketika malam hari, akibatnya produksi urin tetap tinggi. Atau bisa saja hormon ADH tidak direspon oleh ginjal sehingga terus menghasilkan urin, produksi urin yang semakin banyak tidak bisa tertahan lagi oleh kandung kemih.
  • Faktor keturunan. Merupakan hal yang sulit dihindari, jika anda memiliki gangguan ngompol ketika kecil maka anak yang lahir akan memiliki masalah yang sama, terlebih jika anda dan pasangan sama-sama mengalaminya, bisa jadi anak akan mengalami masalah ngompol yang berkelanjutan dan cukup serius.
  • Volume air kemih yang di produksi. Saat malam hari, volume kemih mengalami produksi yang cukup banyak, belum lagi dukungan susu sebelum tidur yang membuat kandung kemih terlalu penuh hingga akhirnya ngompol ketika tidur.
  • Masalah psikologis. Ketakutan, kekhawatiran dan ketidaknyamanan yang dialami anak juga bisa menjadi salah satu penyebabnya. Ketika memiliki perasaan itu anak bisa refleks ngompol di celana. Misal : saat ketahuan mamanya jalan-jalan sama papa tetangga.

2 Comments

  1. Lalaine

    HéhéPas de fausses promesses, pas de démagogie, pas de notes de frais astronomiques ou de soupçons de corruptions parmi ses cadres di;0#eants…&g823iret crédité de 54% d’intention de vote sans campagne électorale?Ce parti a de l’avenir !

    Reply
  2. Kelenna

    Wow, that’s a really clever way of thnniikg about it!

    Reply

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *